TAREKAT NAQSYABANDIYAH PIMPINAN PROF.DR.H. SAIDI SYEKH KADIRUN YAHYA

TAREKAT NAQSYABANDIYAH

Tarekat ini dimasyhurkan oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi q.s. (silsilah ke-15). Beliau dilahirkan di Qashrul ‘Arifan, Bukhara, Uzbekistan tahun 717 – 791 H / 1318 – 1389 M, yang kemudian terkenal dengan nama Bahauddin Naqsyabandi. Beliau mendapat sebutan Naqysabandi yang berarti lukisan, disebabkan Saidi Syekh Naqsyabandi sangat pandai melukiskan kehidupan yang ghaib-ghaib kepada muridnya. Syekh Naqsyabandi lahir dari lingkungan keluarga sosial yang baik dan kelahirannya disertai oleh kejadian yang aneh. Menurut satu riwayat, jauh sebelum tiba waktu kelahirannya sudah ada tanda-tanda aneh yaitu bau harum semerbak di desa kelahirannya itu. Bau harum itu tercium ketika rombongan Syekh Muhammad Baba As Samasi q.s. (silsilah ke-13), seorang wali besar dari Sammas (sekitar4 km dan Bukhara), bersama pengikutnya melewati dasa tersebut. Ketika itu As Samasi berkata, “Bau harum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki-laki yang akan lahir di desa ini”.Sekitar tiga hari sebelum Naqsyabandi lahir, wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.

Setelah Naqsyabandi lahir, dia segera dibawa oleh ayahnya kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi yang menerimanya dengan gembira.As Samasi berkata, “Ini adalah anakku, dan menjadi saksilah kamu bahwa aku menerimanya”. Naqsyabandi rajin menuntut ilmu dan dengan senang hati menekuni tasawuf. Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba Assamasi ketika beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan belajar di situ sampai gurunya (Syekh As Samasi) wafat. Sebelum Syekh As Samasi wafat, beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai khalifahnya. Setelah gurunya wafat, dia pergi ke Samarkand, kemudian pulang ke Bukhara, setelah itu pulang ke desa tempat kelahirannya.

Setelah belajar dengan Syekh Baba As Samasi, Naqsyabandi belajar ilmu Tarikat kepada seorang wali quthub di Nasyaf, yaitu Syekh As Sayyid Amir Kulal q.s. (silsilah ke-14).

Syekh Amir Kulal q.s. (772 H/ 1371 M) adalah salah seorang khalifah Muhammad Baba As Samasi. Dari Syekh Amir Kulal inilah Naqsyabandi menerima statuta sebagai Ahli Silsilah, sebagai Syekh Mursyid tarekat yang dikembangkannya.

Meskipun Naqsyabandi belajar tasawuf dari Syakh Muhammad BabaAs Samasi, dan tarekat yang diperolehnya dari Syekh Amir Kulal juga berasal dari Syekh As Samasi, namun Tarekat Naqsyabandiyah tidak persis sama dengan tarekat As Samasi. Zikir Syekh Muhammad Baba AsSamasi diucapkan dengan suara keras bila dilaksanakan pada waktu zikir berjamaah, namun bila sendiri-sendiri tetap zikir qalbi, sedangkan zikir Tarekat Naqsyabandiyah adalah zikir qalbi, yaitu diucapkan tanpa suara, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah. Zikir Syekh Naqsyabandi sama dengan zikir Syekh Abdul Khalik Fajduani q.s. (Silsilah ke-9), salah seorang khalifah Syekh Abu Yaqub Yusuf al Hamadani (silsilah ke-8). Menurut salah satu riwayat, Syekh Abdul Khalik Fajduani mengamalkan pendidikan Uwais Al Qarni yang melaksanakan zikir qalbi tanpa suara.

Sesungguhnya zikir Tarekat Naqsyabandiyah ini pada awalnya dikembangkan oleh Syekh Abu Yaqub Yusuf Al-Hamadani q.s.( silsilah ke-8), wafat 353 h / 1140 M. Al Hamadani adalah seorang sufi yang hidup sezaman dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani q.s. (470 H – 561 H / 1077 M – 1166 M), seorang tokoh sufi dan wali besar. Syekh Al Hamadani mempunyai dua orang khalifah utama yaitu Syekh Abdul Khalik Fajduani q.s. (silsilah ke-9) wafat 1220 M dan Syekh Ahmad Al-Yasawi (wafat 562 H / 1169 M). Syekh Abdul Khalik Fajduani q.s inilah yang meneruskan silsilah tarekat ini sampai dengan Syekh Bahauddin Naqsyabandi. Adapun Syekh Ahmad Al Yasawi kemudian mendirikan Tarekat Yasawiyah di Asia Tengah yang kemudian menyebar ke daerah Turki dan di daerah Anatolia Asia Kecil.

Abdul Khalik Fajduani q.s. menyebar luaskan ajaran tarekat ini ke daerah Transoksania di Asia Tengah. Abdul Khalik Fajduani yang taraketnya bernama Tarekat Khwajakhan menetapkan 8 (delapan) ajaran dasar tarekatnya, yang kemudian ditambah 3 (tiga) ajaran dasar lagi oleh Syekh Bahauddin Naqsyabandi.

Dalam perjalanan hidupnya, Syekh Naqsyabandi pernah bekerja untuk Sultan Khalil, penguasa Samarkand dan memberikan andil yang besar sekali dalam membina masyarakat menjadi makmur sehingga pemerintahan Sultan Khalil menjadi terkenal. Setelah Sultan Khalil wafat (1347 M), AnNaqsyabandi pergi ke Zerwatun (Khurasan) dan hidup sebagai sufi yang zuhud, sambil melakukan amal kebaikan untuk umat manusia dan binatang selama 7 tahun.

Pencatatan segala perbuatan dan amalnya dilakukan dengan baik oleh Saleh bin al-Mubarak, salah seorang muridnya yang setia. Himpunan catatan tersebut dimuat dalam sebuah karya berjudul “Maqamaat Sayyidina Syah Naqsyaband”.

Pusat perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah ini pertama kali berada di daerah Asia Tengah. Ketika tarekat ini dipimpin oleh Syekh Ubaidullah AlAhrar q.s. (silsilah ke-18) hampir seluruh wilayah Asia Tengah mengikuti Tarekat Naqsyabandiyah. Atas hasil usaha keras dari Syekh Al Ahrar, tarekat ini berkembang meluas sampai ke Turki dan India, sehingga pusat-pusat tarekat ini berdiri di kota maupun daerah, seperti di Samarkand, Merv, Chiva, Tashkent, Harrat, Bukhara, Cina, Turkestan, Khokand, Afghanistan, Iran, Baluchistan dan India.

Syekh Muhammad Baqi Billah q.s. (silsilah ke-22) yang bermukim di Delhi India, sangat berjasa dalam mengembangkan dan membina tarekat ini. Sejumlah murid Syekh Baqi Billah seperti Syekh Murad bin Ali Bukhari mengembangkan tarekat ini ke wilayah Suria dan Anatolia pada abad ke-17. Muridnya yang lain yaitu Syekh Tajuddin bin Zakaria menyebarkan tarekat ini ke Makkatul Mukarramah, sedangkan Syekh Ahmad Abu AlWafah bin Ujail ke daerah Yaman dan Syekh Ahmad bin Muhammad Dimyati ke daerah Mesir.

Sekitar tahun 1837, Tarekat Naqsyabandiyah pun berkembang di Saudi Arabia dan berpusat di Jabal Qubays Mekkah. Dari Jabal Qubays inilah mulai dari Saidi Syekh Sulaiman Zuhdi q.s. (silsilah ke-32), dilanjutkan Saidi Syekh Ali Ridla q.s. (silsilah ke-33), kemudian ketika sampai pada Saidi Syekh Muhammad Hasyim al Khalidi q.s. (silsilah ke-34) masuk ke Indonesia. Dari Saidi Syekh Muhammad Hasyim turun statuta Ahli Silsilah Syekh Mursyid kepada Saidi Syekh Kadirun Yahya MuhammadAmin Al Khalidi q.s. (silsilah ke-35).

SILSILAH DAN PERUBAHAN NAMA TAREKAT NAQSYANDIYAH

SILSILAH

Seorang murid atau salik hendaklah mengambil seorang Syekh Mursyid sebagai guru dan pembimbing rohaninya, baik secara syariat maupun hakikat. Seorang Syekh Mursyid menerima ijazah dari Syekh Mursyidnya terus sambung menyambung sampai kepada junjungan Kita Muhammad SAW yang menerima ajaran ini dari malaikat Jibril a.s yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Di dalam Tarekat Naqsyabandiyah, urutan silsilah ini harus jelas jelas sambung menyambung Syekh Mursyidnya, dan ini adalah amat penting dan menentukan. Seorang Syekh Mursyid menerima ijazah dari Mursyid sebelumnya dan demikian pula Syekh Mursyid pendahulunya menerimanya dari Syekh Mursyid sebelumnya. Ijazah inilah yang menentukan sehingga dia berhak menerima statuta Waliyam Mursyida, Syekh Mursyid yang kamil mukammil.

Pada Tarekat Naqsyabandiyah, silsilah Prof. Dr. H. S.S.Kadirun Yahya adalah Syekh Mursyid yang ke-35. Allah SWT mengutus malaikat Jibril a.s. untuk menyampaikan rahasia yang amat halus kemudian menempatkannya pada tempat yang amat suci, yang kemudian menjadi hamba-Nya yang sempurna dan kekasih-Nya yang utama, yaitu Nabi Muhammad SAW. Pada usia 40 (empatpuluh) tahun, Muhammad diangkat menjadi Rasul dan dinyatakan sepenuhnya bahwa Muhammad itu adalah abduhu wa rasuluhu menjadi hamba dan Rasul-Nya.

Pada waktu menerima wahyu yang pertama di Gua Hira’ Jabal Nur, selain menerima wahyu pertama, yaitu surat Al ‘Alaq ayat 1 sampai dengan ayat 5, bersamaan dengan itu pula ditalqinkan ke dalam batin Rasulullah lafzul jalalah, rahasia yang amat sangat halus dan merupakan inti Al Qur’an seluruhnya. Rahasia yang amat sangat halus inilah yang merupakan jalan untuk berhubungan langsung kepada Allah Azzawajala yang diamalkan oleh Rasulullah SAW. Pada masa Rasulullah amalan ini dinamakan Tarikatus Sirriyah. Tarikatus Sirriyah inilah yang diturunkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya, termasuk kepada sahabat utamanya Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. Inilah cikal bakal ajaran dan amal Tarekat Naqsyabandiyah.

Silsilah lengkap Tarekat Naqsyabandiyah yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. S. S.Kadirun Yahya bermula dari Allah SWT mengutus Malaikat Jibril Alaihis Salam untuk mentalqinkan rahasia yang amat sangat halus kepada hamba-Nya yang amat suci, kekasih-Nya yang utama, yaitu Nabi Muhammad SAW, dan dari Nabi Muhammad SAW turun kepada :

1) Sayyidina Abu Bakar Siddiq radiyallahu ta’ala anhu (r.a.). GelarAs-Siddik yang berarti benar dan membenarkan kebenaran, dan melaksanakan kebenaran itu dalam perkataan dan perbuatan, lahir maupun batin. Beliau adalah khalifah pertama dari Khulafaur – Rasyidin. Dari beliau turun kepada,

2) Sayyidina Salman Al-Farisi r.a. Beliau adalah murid utama Sayyidina Abu Bakar dan terkenal sebagal tokoh sufi dan tokoh Ilmu Alam, Ilmu Falak yang kenamaan. Dari beliau turun kepada,

3) Al Imam Sayyidina Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar As Siddiq r.a. Dari beliau turun kepada,

4) Al Imam Sayyidina Ja’far As Shadiq r.a. Imam Ja’far adalah anak cucu Sayyidina Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Siddik ra. Beliau terkenal sebagai ahli kesusasteraan dan ahli hukum dan karena keahliannya itu, serta kebenaran dan kesuciannya, menyebabkan dia sangat dihormati. Dari beliau turun kepada,

5) Al ‘Arif Billah Sultanul Arifin Asy Syekh Thaifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan, yang dimashurkan namanya dengan AsySyekh Abu Yazid Al—Busthami quddusa sirruhu (q.s.). Gelar Sultanul Arifin berarti imam besar, orang yang mengatahui, imam tasawuf, pemimpin besar yang pertama dalam tarekat keturunan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. Dari beliau turun kepada,

6) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Abul Hasan Ali bin Abu Ja’far AlKharqani q.s. Keistimewaannya dia sangat kasih kepada Allah dan Rasul-Nya, dan dari beliau turun kepada penghulu sekalian quthub. Dari beliau turun kepada,

7) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Abu Ali Al-Fadhal bin Muhammad Aththusi AlFarimadi q.s. Dari beliau turun kepada wali Allah,

8) Al ‘Arif billah Asy Syekh Abu Yakub Yusuf AI-Hamadani bin Ayyub bin Yusuf bin AI-Husain q.s. Nama lain beliau adalah Abu Ali As Samadani. Dari beliau turun kepada wali Allah, yaitu:

9) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Abdul Khaliq AI-Fajduwani Ibnu Al-Imam Abdul Jamil q.s. Beliau itu nasabnya sampai kepada Al-Imam Malik bin Anas ra. Dari beliau turun kepada quthub penghulu sekalian wali Allah, yaitu,

10) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Ar Riwikari q.s. Dari beliau turun kepada hamba Allah, kepala daripada sekalian guru-guru, yaitu,

11) Al ‘Arif Billah Asy Syekh MahmudAl-Anjir Faghnawi q.s. Beliau adalah aulia Allah yang mempunyai sifat dan perangai sempurna dalam menuntut ridla Allah dan sempurna abdinya kepada Allah azza wajalla. Dari beliau turun kepada wali yang sangat kasih akan Tuhannya yang ghani, yaitu,

12) Al ‘Arif Billah Asy Syekh AliAr Ramitani, yang dimasyhurkan namanya dengan AsySyekh Azizan q.s. Dari beliau turun kepada murid yang sangat tinggi ilmu tarikat dan makrifatnya. Dari beliau turun kepada penghulu sekalian wali Allah, yaitu,

13) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Muhammad Baba As Samasi q.s.Beliau adalah seorang aulia Allah dari keturunan Tionghoa. Beliau senantiasa mujahadah dan musyahadah kepada Tuhan dan beliau adalah penghulu dari sekalian wali-wali Allah. Syakh Muhammad Baba As Samasi q.s hidup dalam satu zaman dengan Asy Syakh Ali Ar Ramitani dan dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani q.s. Dari beliau turun kepada raja yang besar lagi sayyid, kepala sekalian guru-guru, yaitu,

14) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Sayyid Amir Kulal bin Sayyid Hamzah q.s. Syekh Sayyid Amir Kulal adalah raja di tanah Arab yang besar dan dia bergelar sayyid mempunyai keturunan bangsawan, dan beliau adalah guru hakikat dan makrifat. Dari beliau turun kepada wali Allah yang masyhur keramatnya dan makmur, ialah imam Tarikat Naqsyabandiyah yang terkenal namanya dengan Syah Naqsyabandy, yaitu,

15) Al ‘Arif Billah Asy Syekh As Sayyid Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari q.s. Beliau meletakkan dasar-dasar zikir qalbi yang sirri, zikir batin qalbi yang tidak berbunyi dan tidak bergerak, dan beliau meletakkan kemurnian ibadat semata-mata lillaahi ta’ala, tergambar dalam do’a beliau yang diajarkan kepada murid-muridnya “Ilahii anta makshuudii waridhaaka mathluubii”. Secara murni meneruskan ibadat Thariqatus Sirriyah zaman Rasulullah, Thariqatul Ubudiyah zaman Abu Bakar Siddiq dan Thariqatus Siddiqiyah zaman Salman al Farisi. Beliau amat masyhur dengan keramat-keramatnya dan makmur dengan kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali quthub yang afdhal, yang amat tinggi hakikat dan makrifatnya. Dari murid-muridnya dahulu sampai dengan sekarang, banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur pelaksanaan iktikaf atau suluk dari 40 (empat puluh) hari menjadi 10 (sepuluh) hari, yang dilaksanakan secara efisien dan efektif, dengan disiplin dan adab suluk yang teguh. Dan dari beliau turun kepada,

16) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Muhammad Al-Bukhari Al-Khawarizumi yang dimashurkan dengan namanya Asy Syekh Alaudin AI-Aththar q.s. Dari beliau turun kepada waliullah, yaitu :

17) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Ya’qub Al-Jarkhiq.s. Dari beliau turun kepada wali yang agung, yaitu :

18) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrar AsSamarqandi bin Mahmud bin Sihabuddin q.s. Dari beliau turun kepada raja yang saleh, ialah kepala sekalian guru-guru, yaitu :

19) Al ‘Arif Billah Asy Syekh MuhammadAz Zahid q.s. Dari beliau turun kepada anak saudara perempuannya yang mempunyai kerajaan yang besar dan martabat yang tinggi, yaitu :

20) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Darwis Muhammad Samarqandi q.s. Dari beliau turun kepada anaknya ialah seorang raja yang besar, yang adil lagi pemurah, lagi lemah lembut perkataannya, yaitu :

21) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Muhammad Al-Khawajaki Al-Amkani As Samarqandi q.s. Dari beliau turun kepada wali Allah yang quthub, yaitu ;

22) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Muayyiddin Muhammad Al-Baqi Billah q.s. Dari beliau turun kepada anak cucu Amirul Mukminin Sayyidina Umar Al Faruq r.a, yaitu ;

23) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Akhmad Al-Faruqi As Sirhindi q.s.,yang mashur namanya, yang terkenal denganAl Imam ArRabbani Al-Mujaddid Alf Fassami. Dari beliau turun kepada anaknya yang tempat kepercayaannya, yang menaruh rahasianya, yang masyhur namanya, yaitu;

24) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Muhammad Ma ’sum q.s. Dari beliau turun kepada anaknya, yaitu Sultanul Aulia, yaitu :

25) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Muhammad Saifuddin q.s. yang bercahaya zahiriah dan batiniahnya. Dari beliau turun kepada Sayyid Syarif yang gilang gemilang cahayanya, sebab nyata zat dan sifat, yaitu ;

26) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Asy Syarif Nur Muhammad Al-Badwani q.s. Dari beliau turun kepada wali Allah yang tinggi pangkatnya, nyata keramatnya, yaitu :

27) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Syamsuddin Habibullah Jani Janani MuzhirAl-‘Alawi q.s. Dari beliau turun kepada kepala sekalian guru-guru, kepala sekalian khalifah dan penghulu sekalian wali Allah, yaitu;

28) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Abdullah Ad Dahlawi q.s. dan adalah Syekh Abdullah itu nasabnya sampai kepada Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu. Dari beliau turun kepada;

29) Al ‘Arif Billah Maulana Asy Syekh Dhiyauddin Khalid Al-UtsmaniAl-Kurdi q.s. Beliau adalah anak cucu amirul mukminin Sayyidina Usman bin Affan r.a. Beliau adalah Syekh yang mashur, ahli Tarekat Naqsyabandiyah yang fana fillah, lagi baqa billah, yang pada masa suluk menjadi penghulu sekalian khalifah. Dari beliau turun kepada wali Allah yang zuhud akan dunia dan sangat kasih akan zat Allah ta’ala, ialah kepala sekalian guru-guru di dalam negeri Makkah al Musyarrafah, yaitu hamba Allah,

30) Al ‘Arif Billah Sirajul Millah Waddin Asy Syekh Abdullah Al Afandi q.s. Dari beliau turun kepada penghulu sekalian khalifah yang mempunyai keramat yang nyata, yaitu ;

31) Al ‘Arif Billah Asy Syekh Sulaiman Al Qarimi q.s. Dari beliau turun kepada menantunya yang alim lagi Saleh, yang Senantiasa tafakkur dan muraqabah, baqa billah siang dan malam kepada Tuhan khaliqul ‘alam, dan dari beliau nyata kebesarannya serta kemuliaannya, dan adalah penghulu sekalian khalifah dan ikutan sekalian orang yang suluk, yaitu;

32) Mursyiduna, warabiituna, wa maulana, Al ‘Arif Billah Sayyidi Syekh Sulaiman Az Zuhdi q.s. Dari beliau turun kepada anaknya yang alim lagi Saleh, yang senantiasa tafakkur dan muraqabah, baqa billah siang dan malam dan ikutan Sekalian orang yang Suluk, yaitu ;

33) Mursyiduna, wa rabiituna, wa maulana, Al ‘Arif Billah Sayyidi Syekh Ali Ridha q.s. Ketika meletus perang dunia ke-II di Eropa di sekitar tahun 1937 Ali Ridha q.s. meninggalkan Mekkah menuju Baghdad dan kemudian ke India dan di sana dia meninggal dunia. Ali Ridha q.s. adalah ahli tasawuf dan Syekh Tarekat Naqsyabandiyah yang sangat pintar dan alim, seorang sufi yang masyhur. Kasih sayangnya penuh ditumpahkan kepada muridnya yang kemudian menjadi khalifah Rasul yang ke-34 Seorang berkebangsaan Indonesia. Dari beliau turun kepada muridnya yang menambahi Allah Ta’ala akan sucinya, dan meninggikan Allah Ta’ala akan derajatnya, dan kuat melalui jalan kepada Allah Ta’ala, maka melapangkan dan melebihi Allah Ta’ala baginya, karena menambahi Salam berkhidmat akan Allah Ta’ala, dan memberi bekas barang siapa menuntut jalan kepada Allah ta’ala kepadanya. Kemudian meninggikan Allah Ta’ala atas orang yang hidup akan menambahi yakin zikir yang batin dan mengesakan yang dikenal bagi yang kaya dan miskin dan menjadikan Allah Ta’ala bagi orang yang suluk dengan Tarikatul Ubudiyah dan Naqsyabandiyah, amanat suci Allah Ta’ala dan menyembunyikan dia sebagai walinya yang pilihan, yaitu :

34) Mursyiduna, wa rabiituna, wa maulana, Al ‘Arif Billah Sayyidi Syekh Muhammad Hasyim Al Khalidi q.s. Guru pertama beliau adalah Saidi Syekh Sulaiman Hutapungkut di kota Nopan, Tapanuli Selatan. Sebagai kelanjutan dari pendidikannya, Syekh Muhammad Hasyim berguru dan menerima Ijazah syekh dari Syekh Ali Ar Ridha q.s di Jabal Qubis Mekkah. Setelah kembali ke Indonesia, beliau menetap di Buayan, Sumatera Barat. Selama di Jabal Qubis Mekkah dengan tekun menuntut dan mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah, mendalami syariat dan hakikat serta memperoleh makrifat. Pada kesempatan itu pula beliau berpuluh-puluh kali berziarah ke makam Rasulullah SAW dan melaksanakan ibadat haji.Sebagai seorang perintis kemerdekaan, beliau juga pernah dibuang ke Boven Digul dan menjadi penasehat beberapa pembesar Indonesia dalam perang kemerdekaan. Beliau meninggal dalam usia lanjut, yaitu 90 tahun. Beliau lahir pada tahun 1864 dan maninggal tahun 1954.Dari beliau turun kepada muridnya yang pilihan yang sangat kasih akan gurunya, akan Allah SWT dan Rasul-Nya, yang kuat menjalani jalan hakikat dan kuat mengarjakan jalan berkhidmat, yang dikenal oleh orang banyak sebagal seorang tabib besar, yang mengobati orang banyak, dari penyakit batin dan zahir dengan kekuatan zikrullah, dan menjadi ikutan dari segala orang yang terpelajar yang suluk, yang bertarikat dengan Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Khalidiyah, yaitu :

35) Mursyiduna, wa rabiituna, wa maulana, Al ‘Arif Billah Sayyidi Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al Khalidi q.s.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: